Prihatin Lihat Petani Makan Berlauk Garam, Wanita di Ciwidey Buka Rumah Makan Gratis

 


Kurang layaknya bekal makan para petani di Kampung Pasir Mala, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat menjadi perhatian seorang wanita bernama Nuke Wikartaatmaja. Ia tergugah untuk mendirikan rumah makan gratis bagi para pemetik sayur itu.

Dalam penuturannya yang dilansir dari dream.co.id, Rabu (13/4), Nuke mengaku, banyak para petani di sana yang hanya makan nasi dengan lauk garam. Atas dasar itu Nuke akhirnya mendirikan tempat makan di sebuah saung yang ia beri spanduk “Rumah Makan Gratis Ciwidey”.

“Kondisi buruh tani yang kekurangan itulah yang menggerakkan hati saya untuk membuka rumah makan gratis,” terang wanita berusia 49 tahun itu.

Sediakan Sampai 150 Porsi untuk Petani

Ia memang menyediakan makanan di saung berukuran 3 kali 2 meter itu. Di sana tampak tumpukkan piring, sendok hingga gelas yang sudah tertata rapi dan siap digunakan oleh yang membutuhkan.

Untuk salah satu menu yang ia hidangkan adalah opor ayam, dengan lauk lainnya yakni sambal kentang hati serta kerupuk udang yang biasa ia kelompokkan di tempat terpisah. Saat menyediakan makanan, Nuke mengaku bisa memberikan hingga 150 porsi nasi plus lauk itu kepada para petani.

Rumah Makan Gratis Ciwidey memang menyediakan makanan secara cuma-cuma bagi para buruh penggarap lahan di Ciwidey. Sebab, kebanyakan tanah di Ciwidey dimiliki oleh orang Jakarta atau Bandung. Sehingga mereka hanya bekerja dengan penghasilan yang sedikit, dan tak cukup membeli makanan layak.

Hanya Bisa Makan Nasi Berkuah Air Putih dan Garam

Beberapa menu seadanya yang dibawa para petani dari rumah di antaranya nasi dengan lauk sambal dan buah tomat untuk makan siang. Atau terkadang nasi, sambal, dan petai.

Para penggarap lahan di sana sangat jarang makan dengan lauk walaupun yang sederhana. Bahkan ada yang hanya makan dengan nasi yang diberi air putih lalu diberikan sejumput garam sebagai penambah rasa.

Yang makin membuatnya teriris adalah jumlah penghasilan mereka sebagai penggarap lahan yang hanya Rp5.000 per dua hari dengan sistem bagi hasil. Hal itu yang kemudian membuat mereka hanya bisa makan dengan lauk air putih dan garam.

“Bayangkan, untuk upah memetik cabai, mereka hanya dibayar Rp5.000 saat mengumpulkan cabai seberat 10 kilogram. Padahal untuk mengumpulkan cabai sebanyak 10 kg, mereka harus bekerja selama dua hari,” terang Nuke.

Dari Sayur yang Tak Terpakai

Adapun salah satu yang menginspirasi Nuke saat awal membuka rumah makan gratis pada 2021 lalu yakni melimpahnya sayur-sayuran yang terbuang percuma karena dianggap tak sesuai kriteria (bentuknya cacat).

Sayuran tersebut misalnya wortel yang ukurannya kecil atau bengkok, dan itu akan dibuang. Siapa pun yang mau bisa ambil wortel itu secara langsung. Kalau pun beli, beli Rp5.000 sudah dapat banyak sekali.

Dengan latar belakang bisnis katering, Nuke melihat sayang sekali banyak sayur yang terbuang. Padahal dengan sedikit kreativitas, sayur itu bisa diolah menjadi makanan lezat dan banyak karena sumbernya berlimpah dan murah.

Jadi, dengan sayur yang begitu berlimpah, Nuke mulai memasak lebih banyak dari yang dibutuhkan keluarga. Dari kelebihan masakan rumah yang dia masak, dia mulai membagi-bagikan kepada petani penggarap saat mereka hendak pergi ke sawah.

Rezeki Datang Tak Disangka-Sangka

Walau pengeluaran menjadi banyak, namun Nuke tak meresahkan itu. Menurut ibu dari dua anak ini ketika ikhlas berbagi rezeki selalu datang dari mana pun arahnya.

Selain itu ia juga disarankan untuk membuat kartu nama oleh Aditya Prayoga, salah satu pendiri rumah makan gratis yang lebih dulu beroperasi di Jakarta.

Lewat kartu nama itu, Nuke lalu pergi ke pasar, ke bekas pedagang langganan dia. Nuke memberitahu pedagang langganannya sekarang dia punya rumah makan gratis. Jadi kalau ada dari mereka punya bahan yang berlebih dan ingin menyumbang, Nuke akan menerima dan mengolahnya.

Maka, sejak April 2021, mulailah Nuke resmi membuat rumah makan gratis Ciwidey. Awalnya mulai dari 30 porsi, lalu meningkat jadi 50 porsi, hingga sekarang 150 porsi per hari.

“Kenapa saya membuka rumah makan gratis? Karena ada kepuasaan batin melihat wajah-wajah petani yang memakan makanan saya dengan lahap. Ini merupakan kebahagiaan terbesar saya. Kalau ditanya duitnya dari mana untuk membiayai ini semua, saya bingung jawabnya. Tapi biasanya ada saja. Semua dimudahkan oleh Tuhan,” katanya yakin.

Memberi yang Terbaik untuk Petani

Sebelumnya Nuke bersama sang suami memiliki sejumlah usaha kue dan katering dengan rata-rata penghasilan mencapai puluhan juta. Ia juga sebelumnya bekerja di Yayasan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) milik ayahnya.

Namun semenjak datangnya pandemi Covid-19, usahanya perlahan menurun hingga bangkrut, termasuk sang suami yang pernah bekerja di salah satu perusahaan provider yang juga terkena dampak.

Ia pun akhirnya memilih pindah ke rumah saung milik ayahnya di kawasan pegunungan Ciwidey. Di sana ia menghabiskan kehidupannya sehari-hari, termasuk berbagi kepada para petani. Ia pun tak pernah membeda-bedakan antara menu makan dengan keluarganya maupun untuk para petani.

Bisa dibilang menu yang dibagikan gratis untuk para penggarap lahan sama dengan yang ia konsumsi, sehingga kualitasnya terjamin. Ia pun berharap bisa terus berbagi sebagai obat ketenangan hati selama masih diberi kesehatan.



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel